Menengok Masjid Rao-Rao dan Akulturasi 3 Budaya di Tanah Datar

Baca juga:
KONFRONTASI-Berbagai ekspresi budaya masyarakat Minangkabau menunjukkan perpaduan antara kepercayaan religi dan adat-istiadat. Salah satu bangunan yang menampilkan artian itu adalah Masjid Rao-Rao di Jalan Raya Lintas Batusangkar–Bukittinggi.

Lokasi tepatnya, Nagari Rao-rao, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Masjid seluas 16 x 16 meter persegi ini adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang masih kokoh hingga saat ini.

Keunikannya dapat dilihat dari gaya arsitektur yang diterapkan pada bangunan yang termasuk cagar budaya itu. Ada perpaduan corak arsitektural dari tiga bangsa, yakni Melayu (Minangkabau), Eropa (Italia dan Belanda), serta Timur Tengah (Persia).

Nuansa Minangkabau terutama tampak jelas pada bagian atap masjid ini. Atap tersebut berbahan dasar seng. Bentuknya tersusun atas tiga bagian. Pada puncaknya, terdapat sebuah menara berukuran sedang dengan bentuk segi empat.

Sebagai penutupnya, terpasang atap bagonjong, yang telah menjadi identitas budaya khas Minangkabau. Atap tersebut juga memuat makna simbolis. Dengan mengarah pada empat arah mata angin, ia melambangkan empat suku yang menghuni Nagari Rao-Rao, yaitu Petapang Koto Anyer, Bendang Mandahiliang, Bodi Caniago, dan Koto Piliang.

Keempat sisi yang saling menguatkan menandakan masing-masing suku itu selalu hidup berdampingan serta merawat kerukunan.

Adapun nuansa gaya bangunan Eropa terlihat dari tiang-tiang Masjid Rao-Rao. Ada empat tiang sokoguru yang menegakkan bangunan masjid ini. Jumlah tersebut menyimbolkan niniak mamak yang terdapat di Nagari Rao-Rao, yaitu Chaniago, Bendang Mandailing, Koto Piliang, dan Petapang Koto Ampek. Jendela masjid ini berjumlah 13 buah, sebagai pengibaratan jumlah 13 rukun shalat.

Berikutnya, desain keramik yang melapisi lantai masjid itu juga menunjukkan corak arsitektur Barat. Bagian interior masjid, tepatnya pada ruang shalat utama, didominasi warna putih dan kental sentuhan arsitektur Belanda. Kehadiran unsur Eropa tak mengherankan. Sebab, pembangunan masjid ini berlangsung pada saat Ranah Minang masih dijajah Belanda.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 1908. Masyarakat setempat pada waktu itu bergotong-royong untuk membangunnya. Lahannya berasal dari tanah wakaf H Mohammad Thaib Caniago. Pembangunan dipimpin tokoh setempat, Abdurrachman Datuk Majo Indo.

Pada 1916, masjid ini sudah dapat dimanfaatkan oleh kaum Muslimin untuk shalat berjamaah. Hanya saja, lantai masih belum begitu baik. Pihak panitia hendak menggantinya dengan bahan marmer. Oleh karena itu, para pemuka nagari setempat menggalang donasi dari berbagai saudagar Minang, bahkan hingga ke negeri jiran.

Setelah dana yang dibutuhkan berhasil terhimpun, mereka lantas memesan marmer dari Italia. Pengiriman diproses langsung dari negeri pizza itu dengan kapal laut. Setibanya di Sumatra, pesanan dikirim via kereta api menuju Payakumbuh. Sampai di stasiun, pengiriman dilanjutkan dengan menggunakan pedati hingga sampai di Nagari Rao-Rao.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1918, sentra kegiatan ibadah umat Islam itu dibuka untuk umum. Awalnya, atap bangunan itu berbahan ijuk, tetapi kemudian diganti dengan seng pada masa Indonesia merdeka.

Di samping unsur Minang dan Eropa, ada pula nuansa ornamen yang sering dijumpai di masjid-masjid Persia. Ornamen tersebut menghiasi terutama bagian dinding serta pagar teras Masjid Rao-Rao. Hiasan berupa pecahan kaca keramik memperindah bagian mihrab, yang dibuat permanen sejak 1930. Adapun mimbar masjid ini berukuran 3x1,38 meter persegi dengan ketinggian 3,1 meter.

Desain Masjid Rao-Rao menginspirasi masjid-masjid lain, seperti Masjid Sa'adah Gurun di Kecamatan Sungai Tarab dan Masjid Raya Koto Baru di Kecamatan Sungai Baru, Solok Selatan, Sumatra Barat.[mr/rol]

COMMENTS

Loading...

Share

Loading...
Nama

BUMN,20,EKBIS,422,FOKUS,207,GLOBAL,591,IPTEK,343,KHAZANAH,173,KRIMINAL,197,LIFESTYLE,70,NASIONAL,392,OLAHRAGA,350,OPINI,75,OTOMOTIF,70,POLHUKAM,416,RAGAM,508,SELEBRITA,234,
ltr
item
Konfrontasi.co: Menengok Masjid Rao-Rao dan Akulturasi 3 Budaya di Tanah Datar
Menengok Masjid Rao-Rao dan Akulturasi 3 Budaya di Tanah Datar
https://2.bp.blogspot.com/-KlEeZvqNsSY/Xrc9ozZReZI/AAAAAAAATMs/2Ogp3d0zT00IkMUJeD1HVLh3cXNvaYeNACK4BGAYYCw/s640/Screenshot_051020_063257_AM.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-KlEeZvqNsSY/Xrc9ozZReZI/AAAAAAAATMs/2Ogp3d0zT00IkMUJeD1HVLh3cXNvaYeNACK4BGAYYCw/s72-c/Screenshot_051020_063257_AM.jpg
Konfrontasi.co
https://www.konfrontasi.co/2020/05/menengok-masjid-rao-rao-dan-akulturasi.html
https://www.konfrontasi.co/
https://www.konfrontasi.co/
https://www.konfrontasi.co/2020/05/menengok-masjid-rao-rao-dan-akulturasi.html
true
8284147347270130295
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy